| Sebuah konferensi yang dihelat organisasi Geologi dunia menyimpulkan, dibutuhkan waktu cukup lama bagi bumi untuk bisa sembuh sepenuhnya dari global warming (pemanasan global). Para ahli bumi itu mengklaim telah menemukan peran besar peningkatan emisi gas rumah kaca terhadap perubahan iklim dan temperatur, serta punahnya beberapa spesies bumi. Klaim ini berhasil dipaparkan setelah mereka meneliti sedimen batu yang berasal dari jutaan tahun lalu. Menurut Profesor Jim Zachos, peneliti dari University of California, sebuah letusan gunung berapi terjadi 55 juta tahun lalu dan mengakibatkan munculnya gas rumah kaca sebesar 4.500 gigaton yang tersebar ke atmosfir bumi selama ribuan tahun. Hal ini, lanjut Zachos, seperti dikutip melalui Telegraph, Rabu (3/11/2010), mengakibatkan panas bumi meningkat sekira 6 derajat selsius dan mengharuskan seluruh ekosistem, termasuk hewan pada zaman itu, untuk beradaptasi dan bermigrasi. Bahkan mamalia di sebagian wilayah pada zaman itu banyak yang tidak kuat dan mati. "Jika dunia terus menghasilkan gas rumah kaca, maka atmosfir kita akan dipenuhi oleh 5.000 gigaton gas rumah kaca yang tidak akan habis dalam kurun ratusan tahun. Hal ini akan mempercepat kenaikan suhu dan iklim, bahkan mengakibatkan makin banyaknya spesies yang punah," ujar Zachos. Ditambahkan Zachos, dampak dari semua ini terhadap evolusi planet bumi akan menjadi lebih hebat ketimbang 55 juta tahun lalu. Bahkan dibutuhkan waktu lebih dari 100 ribu tahun bagi bumi untuk 'menyembuhkan' diri dari pemanasan global ini |
Wednesday, December 29, 2010
Perlu 100 Ribu Tahun Lebih Agar Bumi 'Sembuh' dari Global Warming
Tuesday, December 14, 2010
Teka-teki Pembentukan Gua Terpecahkan

Selama lebih dari seabad para ilmuwan telah menemukan dan memercayai mekanisme dasar pembentukan gua, yakni sebuah patahan kecil terbentuk pada batuan dan air masuk ke dalamnya. Air yang masuk mengandung karbon dioksida, lalu membentuk asam lemah yang mampu melarutkan kalsium karbonat pada batuan.
Namun, masalahnya, mekanisme tersebut menyisakan teka-teki. Bagaimana pelarutan bisa berlangsung begitu cepat sehingga bisa mengakibatkan penetrasi yang begitu dalam dan membentuk sistem gua? Sebagai informasi, sistem gua Mammoth Cave di Kentucky bisa mencapai 580 kilometer.
Baru-baru ini, teka-teki itu terpecahkan lewat analisis matematis terbaru. Piotr Szymczak, fisikawan dari Universitas Warsawa, dan rekannya, Anthony Ladd, insinyur kimia dari University of Florida in Gainesville menguraikan analisisnya di Earth and Planetary Science Letters.
Analisis itu menguraikan bahwa aliran air dalam batuan selalu memiliki ketidakstabilan matematis. Singkatnya, ketika patahan mulai terbentuk, air terkonsentrasi untuk mengalir ke dalam saluran tersebut, memperbesarnya dan mengorbankan saluran lain.
"Mekanisme yang disebut channeling ini mempercepat pelarutan. Itulah yang membuat air bisa memenetrasi begitu dalam. Kebanyakan dari model matematika yang menguraikan pembentukan gua tidak memiliki mekanisme ini sama sekali," tutur Szymczak.
Analisis baru yang dikemukakan Szymczak bisa menjelaskan alasan mengapa pembentukan gua di wilayah bendungan kadang lebih cepat dari yang diharapkan. Model tersebut juga bisa membantu menjelaskan cara air merembes di celah batuan. kompas.com
Thursday, November 25, 2010
Danau-danau di Bumi Memanas
| KOMPAS.com — Danau-danau terbesar di Bumi mengalami pemanasan dalam kurun 25 tahun terakhir. Hal tersebut diumumkan Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat atau NASA, Selasa (23/11/2010). Pemanasan yang terjadi pada danau-danau tersebut diketahui setelah peneliti Philipp Schneider dan Simon Hook dari Laboratorium Propulsi Jet NASA di Pasadena, California, melakukan observasi terhadap 167 danau di Bumi dengan menggunakan data satelit. "Para peneliti melaporkan bahwa rata-rata tingkat pemanasan adalah 0,81 derajat Fahrenheit (0,45 derajat celsius) per dekade. Beberapa danau bahkan memanas hingga 1,8 derajat Fahrenheit (1 derajat celsius) per dekade," kata NASA dalam pernyataannya. Para peneliti menemukan bahwa area yang mengalami peningkatan paling besar adalah wilayah utara Eropa. Sementara itu, tren pemanasan sedikit menurun di wilayah selatan Eropa. Wilayah barat daya Amerika Serikat mengalami tren pemanasan yang sedikit lebih besar daripada wilayah Great Lakes. Sementara itu, wilayah tropis, khatulistiwa, dan belahan bumi selatan mengalami tingkat pemanasan yang lebih kecil. Danau Ladoga di Rusia dan Danau Tahoe di Amerika Serikat mengalami peningkatan suhu yang paling besar. Danau Tahoe mengalami peningkatan sebesar 1,7 derajat celsius sejak tahun 1985. Adapun Danu Ladoga mengalami peningkatan sebesar 2,2 derajat celsius. "Analisis kami menunjukkan data baru dan independen untuk mengetahui dampak perubahan iklim pada daratan di Bumi," kata Schneider. Menanggapi peningkatan suhu yang terjadi di danau, Hook mengatakan, "Kami terkejut mengetahui bahwa beberapa danau menunjukkan peningkatan suhu yang melebihi peningkatan suhu udara." Schneider mengungkapkan, perubahan yang terjadi pada danau tersebut bisa berdampak pada kelangsungan ekosistem danau. Anggota ekosistem tersebut dikatakan bisa terpengaruh oleh perubahan suhu yang sangat kecil. Hasil penelitian Schneider dan Hook dipublikasikan di jurnal Geophysical Research Letters yang terbit minggu ini. Dalam meneliti, para peneliti memilih danau yang berukuran paling sedikit 500 kilometer persegi dan jauh dari garis pantai. |
Monday, June 21, 2010
Sebab hujan di musim kemarau.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG memberi penjelasan mengenai kondisi anomali iklim yang terjadi selama musim kemarau 2010. Meski berada pada musim kemarau, yakni Maret-Agustus 2010, hujan dengan intensitas rendah hingga tinggi masih terjadi di beberapa daerah di Indonesia.
Menurut Kepala BMKG Sri Woro, anomali iklim tersebut tidak terlepas dari sejumlah kondisi faktor pengendali curah hujan di wilayah Indonesia. Yaitu dengan menghangatnya suhu permukaan laut perairan Indonesia.
Selain faktor suhu permukaan laut, terjadinya hujan pada musim kemarau ini juga dipengaruhi pergerakan El Nino yang cenderung menambah massa uap air dan faktor dipole mode negatif yang menambah massa uap air ke Indonesia bagian barat. Juga ada pengaruh dari global warming. Pemanasan suhu Bumi ini tidak hilang, tetapi berubah bentuk menjadi energi kinetis dan hujan. Walau demikian, intensitas hujan tersebut masih tergolong normal.
Subscribe to:
Posts (Atom)