Wednesday, October 28, 2009

Upaya Prediksi Gempa

Fenomena kegempaan telah terjadi sejak permukaan Bumi ini terbentuk. Untuk memahaminya, dikembangkan seismologi, bagian dari ilmu kebumian. Namun, hingga kini gempa belum juga dapat diperkirakan sehingga selalu mengancam kehidupan di atasnya. Riset pun terus berjalan.

Awal pekan lalu muncul rumor akan terjadi gempa berkekuatan 8,5 skala Richter pada Sabtu, 24 Oktober 2009. Guncangannya disebutkan mengarah ke Jakarta.

Berita yang disebutkan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) itu telah dibantah Kepala BMKG, 19 Oktober. Isu ini tidak mempunyai dasar ilmiah yang jelas karena gempa tektonik belum bisa diprediksi secara ilmiah.

Kenyataannya pada tanggal itu Jakarta "aman-aman" saja. Meski terjadi gempa pada pagi hari (pukul 10.09 WIB), skalanya hanya 5,1 SR dan hanya sedikit menggoyang Sukabumi.

Lalu ada gempa lagi pada malam harinya (21.40 WIB) di Laut Banda. Gempa tergolong kuat (7,3 SR) dengan pusat ada pada jarak 209 kilometer barat laut Saumlaki, Maluku. Karena pusat gempanya dalam, guncangannya terasa hingga ke Ambon dan Merauke.

Sejauh ini, ilmu kebumian yang dikuasai manusia baru sebatas merekam gempa yang terjadi, baik waktu, lokasi, maupun intensitasnya. Belum ada teknik prediksi gempa yang tergolong maju dan teruji secara ilmiah.

Namun, upaya rintisan ke arah itu terus dilakukan. Salah satu teknik pemantauan menggunakan gelombang elektromagnet (EM) yang terpancar dari perut Bumi. Penelitian ini telah lama dirintis Varotsos, pakar geofisika dari Universitas Athena, Yunani, pada tahun 1884.

Menurut dia, teknik ini memiliki prospek yang baik untuk memperkirakan gempa karena tingkat kesuksesannya dalam memprediksi gempa ketika itu sudah mencapai 63 persen.

Melihat prospek itu, beberapa negara maju, di antaranya Jepang dan Taiwan—yang kerap diguncang gempa—seperti halnya Indonesia, belakangan ini gencar melakukan pengembangan teknik ini, tidak hanya untuk mengamati sebaran EM di lapisan litosfer Bumi, tetapi juga di atmosfer hingga ionosfer. selengkapnya di kompas.com



Tuesday, September 8, 2009

Hemat Energi, Awali dari Desain Rumah

1. Usahakan posisi rumah tidak menghadap ke timur supaya cahaya matahari tidak langsung masuk ke dalam rumah.

2. Atur penempatan ruangan dengan cara memperbanyak bidang utara dan selatan. Hal ini dilakukan supaya panas matahari tidak langsung masuk ke dalam rumah dan mengakibatkan suhu rumah naik.

3. Usahakan setiap ruangan mempunyai jendela atau ventilasi supaya ada pertukaran udara. Udara yang terjebak di dalam ruangan akan membuat suhu ruangan tinggi.

4. Untuk mencegah sinar matahari langsung masuk ke dalam rumah melalui jendela atau ventilasi, Anda bisa memasang shading atau penahan sinar, seperti kanopi.

5. Gunakanlah peralatan elektronik hemat energi, mulai dari lampu hingga perangkat yang memakan daya cukup besar. Bagi Anda yang sudah memiliki perangkat lama, mungkin akan keberatan membeli produk hemat energi karena besarnya uang yang harus dikeluarkan. Namun, jika dipikirkan jangka panjang, mahalnya biaya di awal tidak akan sia-sia. Ke depan, Anda bisa berhemat bayar listrik dan menyelamatkan lingkungan. kompas


Apa itu Gas Rumah Kaca?

Adalah gas dari atmosfer yang berfungsi SEPERTI panel kaca yang ada di rumah kaca.

Tugasnya, menangkap energi panas matahari supaya tidak terlepas kembali ke atmosfir.

Yang termasuk kategori gas rumah kaca adalah CO2(carbon dioksida), NO2(dinitro oksida) dan CH4(metana).

Tanpa kehadiran gas-gas ini, panas akanmenguap ke angkasa kembali dan temperatur rata-rata bumi menjadi 63oF (33oC) lebih dingin.

Efek Rumah Kaca bukan karena gedung/rumah berkaca. CO2 dihasilkan karena pembakaran bahan bakar fosil (minyak bumi dan batu bara). Pemakaian pupuk kimia juga berpotensi menghasilkan gas metana (CH4).

Sebab Terjadinya Gempa

Gempa bumi merupakan peristiwa pelepasan energi yang menyebabkan dislokasi (pergeseran) pada bagian dalam bumi secara tiba-tiba.

Penyebab Terjadinya Gempa Bumi
1. Proses tektonik akibat pergerakan kulit/lempeng bumi
2. Aktivitas sesar di permukaan bumi
3. Pergerakan geomorfologi secara lokal, contohnya terjadi runtuhan tanah
4. Aktivitas gunung api
5. Ledakan nuklir

Mekanisme perusakan terjadi karena energi getaran gempa dirambatkan ke seluruh bagian bumi. Di permukaan bumi, getaran tersebut dapat menyebabkan kerusakan dan runtuhnya bangunan sehingga dapat menimbulkan korban jiwa.

Getaran gempa juga dapat memicu terjadinya tanah longsor, runtuhan batuan, dan kerusakan tanah lainnya yang merusak permukiman penduduk. Gempa bumi juga menyebabkan bencana ikutan berupa kebakaran, kecelakaan industri dan transportasi serta banjir akibat runtuhnya bendungan maupun tanggul penahan lainnya.

Tuesday, August 25, 2009

Gedung Hijau 2010


Dalam upaya ikut mengurangi pemanasan global, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan menerapkan konsep green building di gedung-gedung pemerintah dan swasta. Konsep bangunan ramah lingkungan itu sedang disempurnakan sampai akhir tahun dan bakal diterapkan tahun 2010.

Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, Kamis (25/6) di Jakarta Selatan, mengatakan, konsep green building diterapkan untuk menciptakan bangunan yang hemat dalam pemakaian energi dan air sehingga ramah terhadap lingkungan. Konsep yang sudah disempurnakan akan disahkan dalam peraturan daerah.

Eksterior dan interior bangunan diatur agar energi yang digunakan untuk penerangan dan pendingin ruangan efisien. Penggunaan lampu hemat energi dan pembangkit listrik tenaga matahari di gedung menjadi salah satu langkah yang ditempuh.

Penerapan konsep green building akan dimulai di gedung Balaikota DKI Jakarta. Penerapan itu akan dimulai semester kedua 2009. Setelah itu, konsep tersebut akan diterapkan di gedung-gedung pemerintah yang lain dan gedung-gedung swasta. Kedutaan Inggris, Australia, Austria, dan Swiss sudah mendaftarkan gedung kantor mereka untuk ikut program ini.

Fauzi menawarkan insentif kemudahan perizinan bagi setiap pengembang yang mau membangun gedung baru dengan konsep ini. Para pemilik gedung yang sudah berdiri akan mendapat penjelasan mengenai konsep yang ramah lingkungan ini (kompas)

Monday, August 10, 2009

Mulailah dari Rumah Anda, Go Green!

Global warming atau pemanasan global akibat efek rumah kaca pada bumi makin menjadi perhatian banyak kalangan akhir-akhir ini.

Berbagai fenomena alam aneh -seperti kacaunya ritme pergantian musim misalnya, menjadi pertanda betapa mendesaknya isu lingkungan hidup ini.


Apa penyebab efek rumah kaca yang terbesar? Listrik!! Penggunaan listrik memang jadi biang penyumbang terbesar (37%) gas rumah kaca.

Soalnya, pembangkit listrik yang bekerja akan menghasilkan polusi, salah satunya CO2. Begitu konsentrasi CO2 meningkat di atmosfer, makin banyak pula gelombang panas yang dipantulkan permukaan bumi diserap atmosfer. Akibatnya? Suhu permukaan bumi pun ikut meningkat.

Hadiah Termahal Untuk Anak Cucu Anda



Berikanlah hadiah yang termahal untuk anak cucu anda, Dunia Bebas Polusi.

Hadiah ini bisa anda berikan tanpa harus keluar uang sepeser pun.

Hanya dari diri anda sendiri untuk kebahagiaan dan kesehatan keturunan anda.


Apa itu? Mudah, cukup terapkan prinsip 4 R berikut dalam keseharian anda. Go Green!

* Reduce (Mengurangi); sebisa mungkin lakukan minimalisasi barang atau material yang kita pergunakan. Semakin banyak kita menggunakan material, semakin banyak sampah yang dihasilkan.

* Reuse (Memakai kembali); sebisa mungkin pilihlah barang-barang yang bisa dipakai kembali. Hindari pemakaian barang-barang yang disposable (sekali pakai, buang). Hal ini dapat memperpanjang waktu pemakaian barang sebelum ia menjadi sampah.

* Recycle (Mendaur ulang); sebisa mungkin, barang-barang yg sudah tidak berguna lagi, bisa didaur ulang. Tidak semua barang bisa didaur ulang, namun saat ini sudah banyak industri non-formal dan industri rumah tangga yang memanfaatkan sampah menjadi barang lain.

* Replace ( Mengganti); teliti barang yang kita pakai sehari-hari. Gantilah barang barang yang hanya bisa dipakai sekali dengan barang yang lebih tahan lama. Juga telitilah agar kita hanya memakai barang-barang yang lebih ramah lingkungan, Misalnya, ganti kantong keresek kita dnegan keranjang bila berbelanja, dan jangan pergunakan styrofoam karena kedua bahan ini tidka bisa didegradasi secara alami.

Mudah dan Murah kan? GO GREEN!

SUMUR BIOPORI ATASI BANJIR


Salah satu cara jitu mengatasi banjir adalah dengan "TANGKAP" AIR HUJAN dengan cara buat sumur resapan atau sumur biopori





Cara Membuat Sumur Biopori :

Gali lubang bentuk silinder, diameter 10 - 30 cm, kedalaman 80 - 100 cm (boleh kurang jika muka air tanah dangkal)

Jarak antara lubang yang satu dengan yang lain 50 - 100 cm

Isi lubang dengan sampah organik (sampah dapur, daun, rumput). Tambah terus sampah organik jika isi lubang berkurang akibat pembusukan

Perkuat mulut lubang dengan memasukkan paralon (10 cm) dan pinggir mulut lubang disemen agar tidak longsor

Tutup dengan "loster" atau tutup saluran WC agar tidak membahayakan anak-anak



Fungsi dari Sumur Biopori:
  • mengatasi banjir karena meningkatkan daya resapan air
  • mengatasi sampah karena dapat mengubah sampah organik menjadi kompos
  • mengurangi emisi dari kegiatan mengkompos sampah organik
  • menyuburkan tanah
  • mengatasi masalah timbulnya genangan air penyebab demam berdarah dan malaria

Selamatkan Bumi Dari Dapur



Aneka jenis tissue diproduksi dari serat kayu dan tidak dapat didaur ulang. Gunakan lap/serbet yang bisa dipakai berulang kali untuk lap piring, serbet makan, lap meja, dll

Kantong teh celup terbuat dari bahan yang sulit hancur. Pilih teh bubuk dan bukan teh celup

Jangan biarkan magic jar menyala selama 24 jam sehari. Segera matikan setelah nasi atau masakan matang. Nyalakan hanya saat ingin memanaskan nasi atau makanan


Minyak goreng dibuat dari kelapa sawit. Keberadaan kebun kelapa sawit telah mengubah wajah hutan alam di Indonesia. Berhematlah menggunakan minyak goreng untuk menyelamatkan hutan kita dan mengurangi emisi..Hutan gambut menyerap emisi karbon lebih besar dari hujan

Pilih sabun atau shampoo berukuran besar, bisa diisi ulang. Selain lebih ekonomis, kita juga bisa mengurangi sampah kemasan

Hindari pemakaian sumpit sekali pakai agar tidak menambah jumlah sampah. Pakailah sumpit yang setelah pakai dapat dicuci dan digunakan lagi.

Habiskan makanan yang ada dipiring untuk mengurangi sampah.

Hindari membuang air minum yang tersisa di gelas/botol. Gunakan untuk menyiram tanaman, mencuci tangan, dsb Usahakan menghabiskan minuman anda.

Jadikan sampah dapur organik (potongan sayur, kulit buah, tulang ikan/ayam, ampas teh, kulit telur, dll) menjadi kompos / pupuk dengan cara menguburkannya.

Pilah-pilah sampah anorganik (kertas, plastik, dll) yang masih bisa digunakan kembali (re-use)

Tips Go Green untuk Karyawan


Gunakan transportasi publik, sepeda atau berjalan kaki daripada menggunakan mobil untuk berangkat ke kantor




Jika anda berkendara untuk berangkat kerja, cobalah untuk berangkat bersama-sama dengan kolega yang tinggal berdekatan atau sejalan kebijakan personal

Atur printer anda untuk mencetak di kedua sisi kertas

Gunakan email jika memungkinkan, daripada menggunakan mesin fax atau tulisan tangan

Gunakan kembali amplop bekas

Recycle kertas bekas pakai

Matikan lampu ruang meeting dan matikan komputer serta alat elektronik lainnya jika tidak digunakan

Membangun 1 Candi Borobudur dari Tumpukan Sampah 2 hari


Data terakhir Dinas Kebersihan Jakarta menunjukkan jumlah sampah Jakarta sampai saat ini ± 27.966 M³ per hari. Komposisinya, 65 persen sampah organik dan 35 persen sampah nonorganik.

Jadi kalau mau kita hitung, penduduk DKI Jakarta dapat membangun 1 Candi Borobudur setiap 2 Hari dari tumpukan sampah. WOW!! Ini baru Jakarta loo, belum kota-kota lainnya.


Salah satu cara kita mengurangi tumpukan sampah itu adalah dengan membuat kompos untuk sampah organik rumah kita.

Caranya:

Sediakan wadah berdiameter 10 cm (yang tidak dipakai lagi), lubangi bagian bawahnya untuk saluran cairan coklat (lindi) hasil pengomposan. Beri pasir ke dalam wadah sebagai dasarnya
Lalu sampah organik seperti sisa sayuran, buah, makanan, dll ditumpuk di atas pasir itu.
Pada hari ketiga setelah ada bau masam, sisa sayuran dan makanan ditaburi kapur (dolomide) untuk menambah unsur hara hasil kompos.

Perciki air secukupnya. Kemudian tambahkan tanah gembur secukupnya agar bau bisa tertahan.
Untuk lapisan berikutnya dapat mulai lagi dengan diperciki air, diberi pasir, sisa sayuran/makanan, tanah gembur. Pembuatan kompos dilakukan secara berlapis-lapis.
Untuk wadah berdiameter 10 cm campuran tidak perlu diaduk, tetapi untuk wadah yang berukuran lebih besar sebaiknya campuran diaduk.

Waktu yang diperlukan untuk menjadi kompos sekitar satu setengah bulan. Tanda-tanda pengomposan sudah selesai campuran menjadi hitam dan tidak bau. Kompos tersebut dapat dimanfaatkan sebagai pupuk tanaman, media tanam di rumah sendiri atau jika dijual bisa menjadi sumber penghasilan tambahan.

Hemat Energi Mulai Dari Makanan Anda

Ada sisi penghematan energi yang enggan dilihat orang, yakni menu makanan di piring. Kegemaran makan daging, kalau dirunut ke belakang, banyak menyumbang kerusakan lingkungan. Sebab, pemakaian energi untuk menghasilkan daging sangat besar.

"Produksi daging melibatkan indutri yang tidak mudah diajak memahami masalah energi dan lingkungan," kata Prasasto Satwiko, Koordinator Bidang Teknologi Pusat Studi Energi Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), dalam Seminar Energi di UAJY, Rabu (11/6).

Ia memaparkan, laporan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) menyebut industri daging, telur, dan produk hewani melepas gas 60 persen gas N2O (nitrogen) yang berbahaya di bumi. Peternakan menjadi sumber terbesar gas metana (sekitar 40 persen) yang juga berbahaya.

Pemakaian energi untuk menghasilkan sepotong daging amatlah besar. Prosesnya dimulai dari menanam tanaman sebagai pakan ternak. Lantas ke urusan transportasi, pengolahan, operasional peternakan, penjagalan, pemrosesan pabrik, hingga pendinginan.

Setiap tahap, setidaknya menimbulkan polusi dan gas rumah kaca. Sebagai ilustrasi, dibutuhkan 16 pon bijian untuk menghasilkan satu pon daging. Seorang pemakan daging melepas gas CO2 lebih banyak ketimbang mereka yang tidak mengonsumsi daging. "Orang Indonesia beranggapan kalau kurang makan daging maka tubuh jadi lemas. Itu keliru karena tak ada teori yang membuktikan," katanya.

Di Indonesia, kalau orang tidak makan daging lantas dianggap tidak keren. Padahal daging sumber penyakit. Di luar negeri, tren penyakit bisa berkurang karena kaum vegetarian semakin bertambah. Sumber : Kompas Juni 2008

Popular Posts